Artikel

HARI KEBANGKITAN NASIONAL: PENDIDIKAN INDONESIA JUSTRU TERPURUK DALAM POLEMIK KEMALASAN BERPIKIR

20 Mei 2026

Hari kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei. Hal ini bertepatan dengan terbentuknya Boedi Oetomo yakni pada 20 Mei 1908. Organisasi ini merupakan bentuk respons terhadap kebijakan Kolonial Belanda yang saat itu membatasi pendidikan masyarakat pribumi. Diprakarsai oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Boedi Oetomo memiliki tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura tentang pentingnya merenungkan posisi mereka dalam masyarakat. Selain itu, Boedi Oetomo juga bertujuan untuk meningkatkan perkembangan mata pencaharian serta kualitas hidup seluruh bangsa Indonesia dengan fokus pada pendidikan, pengajaran, dan pengembangan kebudayaan. Organisasi ini merupakan ruang bagi masyarakat Indonesia untuk berorganisasi secara modern sekaligus menjadi tonggak awal kebangkitan Indonesia dalam melawan kolonialisme melalui pendidikan.

Boedi Oetomo terbentuk karena adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Keterbatasan dalam memperoleh pendidikan membuat masyarakat Indonesia kala itu kesulitan melawan kolonialisme. Oleh karena itu, organisasi ini berupaya untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya pendidikan. Melalui kegiatan berorganisasi dan pengajaran, Boedi Oetomo juga mengajak masyarakat untuk terbiasa berpikir kritis dalam menghadapi berbagai polemik. Hal ini tentu saja membuahkan hasil, yakni berupa kemajuan berpikir dan berorganisasi yang kemudian turut mengantarkan rakyat Indonesia pada kemerdekaan. Namun, di era modern ini, sudahkah kita menjaga semangat kebangkitan yang dilahirkan oleh Boedi Oetomo?

Modern ini, dengan kemajuan teknologi yang semakin masif, semestinya kesadaran pendidikan dan berpikir kritis sudah tidak lagi menjadi masalah genting bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, bisa kita amati bersama bahwa belakangan pendidikan kita disibukkan oleh angka. Nilai seolah menjadi patokan utama keberhasilan pendidikan. Seringkali proses pembelajaran hanya terfokus pada ujian akhir, bukan pada proses berpikir. Ujian akhir memang menjadi salah satu indikator penentu keberhasilan pembelajaran, tetapi bukan satu-satunya. Perolehan nilai tinggi tidak menjadi bukti nyata bahwa pendidikan telah berhasil.

Berdasarkan berbagai hasil asesmen pendidikan nasional, kemampuan siswa dalam memahami konteks dan bernalar masih cenderung rendah. Bahkan menurut data yang dirilis oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, capaian kemampuan berpikir kritis siswa SMA pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025  hanya 31,2 % dari total peserta yang mengikuti tes. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil dalam membangun budaya berpikir kritis. Permasalahan pendidikan kita hari ini bukan tentang rendahnya nilai akademik, tetapi tentang degradasi kemampuan dan kemauan berpikir kritis siswa.

Kemajuan teknologi seperti akal imitasi (AI) yang seharusnya menjadi faktor pendorong kemajuan pendidikan justru menyumbang kemalasan berpikir siswa. Tak jarang siswa memilih menggunakan AI demi mendapatkan hasil instan untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan di sekolah, padahal setiap tugas disusun agar siswa terlatih untuk berpikir. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran akan pentingnya berpikir kritis yang juga didukung oleh ekosistem profesional yang mementingkan barisan angka pada lembar ijazah dibanding potensi diri individu.

Kita belum terlambat untuk berbenah. Kemalasan berpikir ini merupakan permasalahan krusial yang harus segera diatasi. Jika kita terus terlena dengan segala kemudahan yang diberikan oleh modernisasi tanpa memikirkan dampak jangka panjang, tak dapat dipungkiri dikemudian hari akan dapat terjadi krisis daya kritis masyarakat. Kesadaran ini harus dimulai dari setiap komponen pendidikan. Sekolah harus senantiasa berkomitmen dalam mengedepankan proses berpikir siswa pada proses pembelajaran dengan mengamati, mengevaluasi, dan mengapresiasi setiap perkembangan yang dicapai oleh siswa. Sementara itu, siswa juga harus menyadari bahwa menyelesaikan setiap tahapan pembelajaran dengan buah pikiran sendiri lebih penting daripada hasil maksimal yang diperoleh secara instan. Masyarakat juga harus bahu-membahu membentuk ekosistem profesional yang dapat menerima secara terbuka potensi diri tiap individu terlepas dari latar belakang pendidikan formal yang dimilikinya. Bagian paling penting yang mampu mendobrak problematika ini adalah pemerintah dengan perbaikan sistem pendidikan yang menunjang siswa dan guru untuk melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada proses berpikir bukan sekadar hasil akhir.

Jika generasi penerus bangsa adalah mereka yang pasif secara intelektual, tentu kemunduran bangsa ini ada di depan mata. Sebagai  bagian dari bangsa Indonesia, tentu kita tidak ingin hal tersebut terjadi. Oleh karena itu, di Hari Kebangkitan Nasional ini mari kita bangkitkan kembali semangat berpikir kritis yang dipelopori oleh Boedi Oetomo seratus tahun silam.

(melati citra/guru)

Jl. Manyar Rejo I No.39, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur 60118

© 2025 All Rights Reserved. Designed & Developed by David Bagus Prasetyo.

Jl. Manyar Rejo I No.39, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur 60118

© 2025 All Rights Reserved. Designed & Developed by David Bagus Prasetyo.

Jl. Manyar Rejo I No.39, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur 60118

© 2025 All Rights Reserved. Designed & Developed by David Bagus Prasetyo.